Jakarta, JurnalBabel.com – Anggota Komisi XII DPR Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Dipo Nusantara Pua Upa, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Korban diduga meninggal dunia akibat bunuh diri.
Dipo menilai peristiwa tersebut tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan pribadi keluarga korban. Lebih dari itu, kejadian ini merupakan tragedi kemanusiaan yang patut menjadi perhatian dan keprihatinan bersama.
“Peristiwa ini bukan hanya kabar duka bagi satu keluarga, tetapi juga luka batin bagi kita semua. Kehilangan seorang anak dengan cara seperti ini seharusnya menggugah nurani bersama,” ujar Dipo dalam keterangan pers, Rabu (4/2/2026).
Menurut dia, belum optimalnya sistem perlindungan serta layanan kesehatan mental bagi anak menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kasus bunuh diri pada anak. Kondisi ini semakin diperparah oleh kompleksitas persoalan sosial-ekonomi serta tekanan yang ditimbulkan oleh media digital.
“Ketika seorang anak berada dalam kondisi putus asa hingga memilih mengakhiri hidupnya, itu menandakan adanya kegagalan sistemik dalam menciptakan ruang yang aman, suportif, dan melindungi anak,” katanya.
Sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan NTT I, Dipo mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendampingan psikososial bagi anak usia sekolah.
Evaluasi tersebut, menurut dia, perlu mencakup akses terhadap pendidikan dasar yang layak dan berkeadilan, sekaligus penguatan mekanisme deteksi dini terhadap tekanan mental yang dialami anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.
“Tragedi ini tidak boleh terulang. Negara harus hadir secara nyata melalui kebijakan berpihak, sekolah ramah anak, dan lingkungan sosial yang peduli serta melindungi,” ungkap Dipo.
Menutup pernyataannya, Dipo menegaskan bahwa perhatian terhadap anak tidak boleh berhenti pada capaian akademik semata. Negara, kata dia, memiliki kewajiban untuk memastikan adanya pendampingan yang utuh dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
“Anak-anak perlu dirawat dengan empati dan kehadiran nyata, bukan sekadar kurikulum dan angka prestasi. Setiap anak berhak merasa didengar, dilindungi, dan tidak sendirian,” pungkasnya.
Sebelumnya, seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), tewas gantung diri di pohon cengkih. Penyebab siswa kelas IV SD ini gantung diri terungkap. Pemicunya korban diduga kecewa karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah.
Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi korban berusia 10 tahun berinisial YBR tersebut.
Surat itu ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya. Dalam surat itu, YBR menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.
Berikut isi surat YBR kepada ibunya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
