Jakarta, JurnalBabel.com – Anggota Komisi IX DPR Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Ashabul Kahfi, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Nakla Syafira, bayi berusia 14 bulan di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Nakla menjadi perhatian publik setelah kisahnya mencuat ke masyarakat. Bayi tersebut diduga tidak mendapatkan asupan makanan dan susu selama 10 hari akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Selain kesulitan memenuhi kebutuhan susu, kondisi ekonomi keluarga juga membuat sang nenek kesulitan membawa Nakla berobat. Terlebih, Nakla diketahui belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
“Sebagai orang tua, saya bisa membayangkan betapa berat kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Peristiwa ini sangat memprihatinkan dan harus menjadi perhatian serius kita semua. Jangan sampai masih ada anak-anak yang terlambat mendapatkan pertolongan kesehatan karena keterbatasan ekonomi maupun persoalan administrasi,” kata Ashabul Kahfi kepada wartawan, Ahad (1/11/2026).
Atas peristiwa tersebut, Ashabul mendorong dilakukannya penelusuran secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab kondisi Nakla tidak tertangani lebih awal. Padahal, berdasarkan informasi yang beredar, bayi tersebut telah beberapa hari mengalami sakit dan kesulitan mendapatkan asupan makanan.
“Pemerintah daerah bersama Dinas Kesehatan perlu mengevaluasi bagaimana Puskesmas, Posyandu, dan aparat di tingkat desa menjangkau keluarga-keluarga rentan. Jangan sampai kita baru mengetahui ada warga yang membutuhkan pertolongan setelah kondisinya sudah sangat parah,” tegasnya.
Ashabul juga menegaskan, persoalan kepesertaan BPJS Kesehatan maupun administrasi tidak boleh menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mendapatkan pertolongan medis, terutama dalam kondisi gawat darurat.
Di sisi lain, ia mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyalahkan keluarga, termasuk sang nenek yang selama ini merawat Nakla.
Menurutnya, keluarga dengan kondisi ekonomi rentan justru harus mendapatkan pendampingan dan perhatian lebih intensif dari pemerintah.
“Justru keluarga dengan kondisi seperti ini seharusnya mendapatkan pendampingan lebih intensif dari pemerintah,” ujarnya.
Sebagai anggota Komisi IX DPR RI, Ashabul mendorong Kementerian Kesehatan bersama pemerintah daerah untuk memperkuat pendataan dan pemantauan kesehatan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Negara tidak boleh menunggu sebuah kasus viral baru bergerak memberikan pertolongan. Kita memang tidak bisa mengembalikan Nakla kepada keluarganya, tetapi kita harus memastikan kejadian serupa tidak terulang,” ungkapnya.
Ashabul menambahkan, keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari kemampuan mengobati masyarakat yang sakit, tetapi juga dari kemampuan negara mencegah jatuhnya korban jiwa akibat keterlambatan mendapatkan pertolongan.
“Keberhasilan pelayanan kesehatan juga harus diukur dari kemampuan mencegah warga kehilangan nyawa karena terlambat mendapatkan pertolongan,” pungkas legislator asal dapil Sulawesi Selatan itu.
