Jakarta, JurnalBabel.com – Pakar komunikasi politik, Hendri Satrio (Hensa), menilai kasus dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 Joko Widodo semakin berlarut tanpa akhir yang jelas.
Terbaru, dialog antara Eggi Sudjana dengan Jokowi disebutnya justru menambah panjang drama kasus ini.
Hensa mengaku kaget dengan dinamika yang berlanjut hingga Eggi Sudjana memasuki tahap restorative justice, berbeda dengan enam tersangka lain seperti Roy Suryo dan kawan-kawan yang proses hukumnya dilanjutkan.
Menurutnya, perbincangan antara Eggi dengan Jokowi seperti tahapan baru yang mencerminkan perang keyakinan antar pihak.
“Saya kaget karena kelihatannya kok dramanya ternyata panjang juga. Dialog antara Eggi Sudjana dengan Jokowi ini menurut saya sebuah tahapan drama baru nih. Jadi kalau ada sequence-sequence, ini mungkin season baru nih. Kalau ada negosiasi atau dialog, menurut saya ada pihak-pihak yang nggak yakin akan langkah yang ditempuh, sehingga tercapailah sebuah dialog,” ujar Hensa kepada wartawan, Rabu (21/1/2026).
Hensa menilai dialog semacam itu berpotensi menyelesaikan perdebatan, terutama karena Universitas Gadjah Mada sejak awal telah menegaskan Jokowi sebagai alumnus dengan ijazah asli yang diserahkan kepadanya.
Sebagai akademisi, ia memilih percaya pada pernyataan UGM yang berulang kali mengonfirmasi keaslian dokumen tersebut.
“Saya sebagai akademisi memang percaya ke universitas. Universitasnya udah bilang kalau universitasnya bilang asli, buat saya asli. Itu udah titik tuh,” katanya.
Oleh karena itu, ia berharap ada dialog terbuka melibatkan semua pihak seperti yang dilakukan kepada Eggi Sudjana untuk menyudahi perdebatan.
Sebab, menurut Hensa, jika dialog seperti yang dilakukan Eggi dan Jokowi bisa dilakukan, maka seharusnya pembicaraan soal ijazah ini bisa segera selesai.
“Saya mengharapkan endingnya enggak selama ini. Misalnya, ada lagi dialog perbincangan seperti antara Eggi dengan Jokowi, tapi ini dengan semua pihak yang bertanya dalam satu meja gitu ya. Semacam Konferensi Meja Bundar itu ada lagi.” tururnya.
Ia juga menyatakan kasus ini mencatat sejarah buruk bagi Indonesia, di mana seorang presiden dipertanyakan keabsahan dokumen pendidikannya oleh rakyatnya sendiri.
“Ini sejarah sudah mencatat, apa pun hasil ujungnya, bahwa pernah ada seorang presiden dipertanyakan keabsahan dokumen ijazahnya oleh rakyatnya. Ini menurut saya sebuah catatan sejarah yang enggak oke, dan berlalu terlalu panjang kan,” ungkapnya.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI pun berharap pembicaraan terkait dengan ijazah ini dapat disudahi, sehingga masyarakat bisa kembali fokus membicarakan hal lain yang lebih substansial.
“Saya malah berharap ini cepat selesai sehingga kita sebagai masyarakat bisa membicarakan hal lain, semisal bagaimana percepatan pembangunan Indonesia ini terjadi,” pungkasnya.
