JurnalBabel.com – Sultan Banjar, Pangeran Khairul Saleh, angkat bicara terkait polemik Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Yang Mulia Adji Muhammad Arifin, ditempatkan di kursi belakang dalam acara peresmian Kilang Minyak Balikpapan, Kalimantan Timur, yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto pada Senin lalu.
Presiden Prabowo juga sempat mempertanyakan penempatan kursi tersebut dalam acara itu. Pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pun sudah memberikan klarifikasi bahwa penataan tempat duduk sepenuhnya menjadi kewenangan protokol Istana.
Pangeran Khairul Saleh mengatakan, polemik tersebut perlu disikapi secara lebih jernih dengan memahami peran historis kerajaan dan kesultanan dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ia mengingatkan, sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, wilayah Nusantara merupakan kumpulan kerajaan dan kesultanan besar maupun kecil yang tersebar dari Sumatra hingga kawasan timur.
Kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit, Mataram, Banjar, Bulungan, Kutai Kartanegara, hingga Ternate tercatat memiliki peran penting dalam perlawanan terhadap VOC, Pemerintah Hindia Belanda, Jepang, serta tentara Sekutu.
“Perjuangan tersebut melahirkan banyak pahlawan nasional dari kalangan kerajaan dan kesultanan yang terkenal antara lain, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Pangeran Hidayatullah, dan Pangeran Antasari,” kata Pangeran Khairul Saleh dalam keterangan tertulisnya, Jumat (16/1/2026).
Lebih lanjut Pangeran menjelaskan, menjelang Proklamasi Kemerdekaan 1945, Presiden pertama RI Soekarno memandang penting untuk bermusyawarah dengan para raja dan sultan guna menetapkan wilayah serta struktur kekuasaan negara yang akan diproklamasikan.
Dari musyawarah itu, para raja dan sultan bersedia menyerahkan wilayah serta kekuasaannya untuk bergabung ke dalam NKRI, bahkan sebagian turut menyumbangkan dana kerajaan demi perjuangan kemerdekaan.
Sebagai contoh, Sultan Syarif Kasim II dari Kerajaan Siak disebut menyumbangkan dana sebesar 13 juta gulden atau setara hampir Rp1,2 triliun untuk mendukung Republik Indonesia yang baru berdiri.
Pangeran Khairul Saleh juga menyinggung bentuk penghargaan negara terhadap kerajaan dan kesultanan yang tercatat dalam sejarah, seperti penetapan Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa.
Selain itu, sejumlah tokoh kerajaan pernah dipercaya menduduki jabatan strategis negara, di antaranya Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Mangkunegara VIII, Pangeran Mohammad Noor, dan Ida Anak Agung Gde Agung.
Dalam konteks kekinian, ia menyebut penghormatan terhadap kerajaan dan kesultanan juga tercermin dalam tradisi kenegaraan. Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo hingga Presiden Prabowo Subianto, pakaian adat dari berbagai kerajaan dan kesultanan kerap dikenakan dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan di Istana Negara. Para raja dan sultan pun secara rutin diundang untuk menghadiri upacara tersebut.
Pangeran Khairul Saleh memahami polemik penempatan kursi Sultan Kutai Kartanegara pada acara peresmian itu berkaitan dengan aspek keprotokolan. Ia menyebut sejumlah kemungkinan penyebab, mulai dari ketidaksengajaan, kurangnya pemahaman terhadap sejarah terbentuknya NKRI, keterbatasan kesiapan panitia dalam mengantisipasi jumlah undangan dan luas area acara, hingga persoalan administratif serta batas waktu konfirmasi kehadiran.
Meski demikian, Pangeran Khairul Saleh menegaskan pihak kerajaan dan kesultanan Nusantara justru merasa terhormat atas sikap Presiden Prabowo Subianto yang secara terbuka menunjukkan penghargaan kepada Sultan Kutai Kartanegara dalam acara tersebut.
“Hal ini menunjukan pemahaman beliau atas Sejarah Bangsa Indonesia,” kata Pangeran Khairul Saleh.
Pangeran berharap, polemik ini menjadi pelajaran berharga oleh semua pihak. “Atas kejadian yang oleh sebagian masyarakat dianggap kurang pas, semoga kita semua dan pihak terkait dapat mengambil pelajaran berharga serta menyikapinya dengan berlapang dada,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Sultan Kukar menghadiri acara peresmian megaproyek kilang terintegrasi atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina oleh Presiden Prabowo di Balikpapan, Senin (12/1/2026). Saat itu Prabowo menyapa para hadirin.
Selain jajaran kabinet, Prabowo juga menyapa Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Wali Kota Balikpapan Rahmat Mas’ud, hingga Sultan Kukar. Sultan pun berdiri dan tangannya menghormat kepada Presiden. Namun Prabowo tampak heran karena Sultan duduk di belakang.
“Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Adji Mohammad Arifin. Hadir? Yang Mulia. Sultan kok ditaruh di belakang?” kata Prabowo sambil menunjukkan gestur tangan agar seharusnya duduk di depan.
