Jakarta, JurnalBabel.com – Anggota Komisi XII DPR, Sartono Hutomo, menyatakan keyakinannya, Pertamina melalui Sub Holding Upstream PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mampu berperan besar dalam pengelolaan proyek raksasa Blok Masela.
Keikutsertaan Pertamina, menurut dia, menanggapi peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela di Maluku, oleh Presiden RI Prabowo Subianto pekan lalu, memberikan dorongan terhadap persetujuan revisi Plan of Development (POD) dari Pemerintah pada November 2023.
“PHE berpotensi memberi kontribusi besar karena memiliki pengalaman mengelola proyek hulu migas nasional,” kata Sartono dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).
Proyek tersebut sempat tertunda selama 28 tahun sejak kontrak bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998. Setelah penantian panjang itu, Blok Masela memasuki babak baru seiring masuknya PHE dengan hak partisipasi sebesar 20 persen pada 2023.
Menurut Sartono, kehadiran PHE di Blok Masela harus menghasilkan nilai tambah, bukan sekadar kepemilikan saham, oleh karena itu kontribusi PHE yang memiliki hak partisipasi 20 persen di lapangan abadi tersebut juga harus terukur.
Pada fase konstruksi misalnya, dia menyatakan, peran besar PHE antara lain dapat dilakukan melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selain itu, juga melalui keterlibatan industri nasional, transfer teknologi, dan pengendalian biaya proyek yang memiliki nilai investasi 20,94 miliar dolar AS tersebut.
Sartono menyatakan PHE memiliki sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sehingga diharapkan mempunyai kemampuan mengembangkan aspek teknis, lingkungan, dan komersial.
Meskipun demikian dia mengingatkan, Blok Masela merupakan proyek LNG kelas dunia yang menuntut standar Environmental (Lingkungan), Social (Sosial), dan Governance (Tata Kelola) atau ESG dan daya saing komersial tinggi.
Dalam kondisi demikian, lanjut dia, tantangannya adalah menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus memastikan proyek tetap kompetitif di pasar gas alam cair (LNG) global sehingga penguatan kolaborasi teknologi dan tata kelola menjadi kunci.
Sartono menambahkan, dengan potensi cadangan gas mencapai 18,54 TCF dan kapasitas produksi LNG sebesar 9,5 juta ton per tahun, Blok Masela diharapkan bisa memperkuat ketahanan energi, penerimaan negara, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia bagian Timur.
Sementara itu anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha juga menilai keterlibatan Pertamina melalui PHE dalam pengelolaan Blok Masela berpotensi meningkatkan produksi migas nasional.
Selain itu kebaradaan PHE di blok tersebut juga membuat Indonesia sangat diuntungkan karena mendapat double split atau pembagian produksi ganda, yakni bagian untuk negara dan kedua dari perusahaan.
Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) Lapangan Abadi Blok Masela di Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7) yang menandai dimulainya fase baru pengembangan cadangan gas raksasa tersebut setelah sempat tertunda selama 28 tahun sejak kontrak bagi hasil pertama kali ditandatangani pada 1998.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, proyek Strategis Nasional LNG Abadi Masela menyumbang penerimaan negara hingga 37,8 miliar dolar AS, selain itu kontribusi pajak tidak langsung diperkirakan mencapai sekitar 6,43 miliar dolar AS.
Lapangan gas dengan potensi cadangan mencapai 18,54 triliun kaki kubik (TCF) tersebut merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sekitar 20,9 miliar dolar AS atau setara Rp352 triliun.
