JurnalBabel.com – Ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Petani Peternak, UMKM, dan Pekerja Lokal menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (3/7/2026) pagi.
Mereka menyuarakan dukungan penuh atas keberlanjutan program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Massa awalnya berkumpul dan berorasi di depan Gedung DPRD Ponorogo di Jalan Alun-Alun Timur, Kelurahan Mangkujayan. Tak berselang lama, ratusan pendemo bergeser memadati depan kompleks Pemkab Ponorogo di Jalan Alun-Alun Utara untuk menyampaikan aspirasi serupa.
Dalam aksi tersebut, massa membawa berbagai spanduk dan banner ekspresif seperti “MBG Berpihak Pada UMKM, Petani, Peternak, Pekerja Lokal”, “Jangan Stop MBG”, hingga “Karena MBG, Saya Bekerja”.
Mereka meminta pemerintah pusat tidak menghentikan program ini, namun wajib melakukan evaluasi total terhadap oknum yang bermain di dalamnya.
“MBG lanjut, evaluasi sistemnya, habiskan dan tegaskan mereka yang korupsi di dalam program ini,” tegas koordinator aksi, Purwanto.
Purwanto menilai program gagasan Presiden Prabowo Subianto ini sangat luar biasa karena langsung menyentuh stabilitas ekonomi masyarakat bawah. Kehadiran MBG terbukti ampuh menyerap hasil panen pertanian, produk peternakan, dan menyerap tenaga kerja lokal dalam skala masif.
“Mana yang kurang coba? Kalau mungkin dalam perjalanan ini ada suatu teknis kurang baik, ini perlu evaluasi dan penegakan supremasi hukum. Ini yang penting,” kata Purwanto.
Harga Pangan Terjun Bebas
Dampak nyata dari program ini justru kian terasa saat memasuki musim libur sekolah. Karena aktivitas penyerapan dapur MBG berhenti sementara, harga berbagai komoditas pangan di Ponorogo langsung merosot tajam akibat kehilangan pasar terbesar mereka.
“Begitu MBG dihentikan saat libur, berbagai harga kebutuhan cenderung turun bebas. Harga telur turun, harga buah turun, bahkan melon sampai Rp4.000 hingga Rp5.000 saja,” ungkap Purwanto.
Hal senada dikeluhkan oleh Ahmad Sarbini, salah satu peternak ayam petelur di Ponorogo. Ia membenarkan bahwa pasar telur saat ini tengah mengalami hantaman keras akibat absennya program MBG di kala liburan, diperparah dengan sepinya acara hajatan warga.
Kondisi tersebut memicu terjadinya surplus pasokan telur yang menumpuk di kandang-kandang peternak karena minimnya daya serap pasar umum. Masalah kian pelik lantaran biaya operasional peternak terus membengkak.
“Antara produksi dan kebutuhan tidak seimbang. Kemudian harga pakan terus naik, tetapi harga telur terus turun,” kata Ahmad Sarbini.
Harga Telur Anjlok
Sarbini membeberkan, saat ini harga telur ayam di tingkat peternak (kandang) merosot hingga menyentuh angka Rp18.000 per kilogram. Nominal ini dinilai sangat merugikan bagi keberlangsungan usaha peternakan rakyat
Sarbini membeberkan, saat ini harga telur ayam di tingkat peternak (kandang) merosot hingga menyentuh angka Rp18.000 per kilogram. Nominal ini dinilai sangat merugikan bagi keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
Padahal, jika mengacu pada Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan secara resmi oleh pemerintah, harga ideal telur di tingkat peternak seharusnya berada di angka Rp26.500 per kilogram. Melalui aksi turun ke jalan ini, para peternak dan petani di Ponorogo menaruh harapan besar agar pemerintah segera menggulirkan kembali program MBG pasca-liburan sekolah berakhir, sehingga komoditas pangan lokal dapat kembali terserap dengan harga yang stabil dan adil.
