Oleh: Prof. Suparji Achmad
(Pembina Samba Persada Club)
Pada Jumat, 10 Juli 2026, saya menyaksikan secara langsung pertandingan HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026 kategori U-18 antara Samba Persada Women melawan Akademi Persib Putri yang berlangsung di Supersoccer Arena, Kudus.
Kehadiran saya bukan semata-mata sebagai pembina klub, melainkan juga sebagai seorang akademisi yang meyakini bahwa olahraga merupakan sarana pembentukan karakter, tempat nilai kejujuran, sportivitas, dan keadilan diuji. Oleh karena itu, ketika menyaksikan keputusan penalti pada menit ke-40, saya memandang momen tersebut bukan hanya sebagai bagian dari dinamika pertandingan, tetapi juga sebagai refleksi penting mengenai kualitas dan arah pembinaan sepak bola putri Indonesia.
Berdasarkan pengamatan langsung saya di lapangan, insiden tersebut tidak memperlihatkan adanya pelanggaran yang jelas oleh pemain nomor punggung 5 Samba Persada Women. Sebaliknya, situasi tersebut tampak mengarah pada dugaan simulasi (diving) yang kemudian berujung pada keputusan penalti. Tentu, dalam sepak bola, keputusan wasit merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pertandingan dan harus dihormati. Namun, penghormatan terhadap keputusan wasit tetap harus berjalan seiring dengan evaluasi yang objektif apabila terdapat indikasi kekeliruan.
Hal yang menjadi perhatian utama bukan semata-mata hasil dari satu pertandingan. Yang lebih penting adalah bagaimana menjaga agar setiap keputusan dalam kompetisi tetap mencerminkan prinsip keadilan dan profesionalisme. Sebab, dalam proses pembinaan atlet muda, setiap pengalaman pertandingan memiliki nilai pendidikan. Keputusan yang dipersepsikan tidak adil berpotensi memengaruhi kepercayaan pemain terhadap sistem kompetisi dan nilai sportivitas yang sedang dibangun.
Pembinaan sepak bola tidak hanya bertujuan melahirkan pemain dengan kemampuan teknis yang unggul, tetapi juga membangun ekosistem olahraga yang berintegritas. Bakat dapat dikembangkan, kemampuan fisik dapat ditingkatkan, dan strategi dapat disempurnakan. Namun, kepercayaan atlet terhadap keadilan kompetisi merupakan fondasi yang harus dijaga bersama.
Sebagai akademisi, saya meyakini bahwa fair play bukan sekadar slogan FIFA, melainkan prinsip etik yang menjadi dasar legitimasi setiap kompetisi olahraga. Ketika prinsip tersebut tidak dijaga secara konsisten, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil pertandingan, tetapi juga kredibilitas sistem pembinaan dan kepercayaan publik terhadap olahraga itu sendiri.
Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia untuk menjadikan setiap peristiwa kontroversial sebagai kesempatan melakukan evaluasi dan perbaikan. Peningkatan kualitas kepemimpinan wasit, penguatan mekanisme evaluasi pertandingan, serta keterbukaan terhadap kritik yang disampaikan secara konstruktif merupakan langkah penting untuk membangun kompetisi yang semakin profesional.
Indonesia memiliki cita-cita besar untuk menjadi salah satu kekuatan sepak bola di Asia. Cita-cita tersebut tidak cukup diwujudkan melalui fasilitas yang memadai, kompetisi yang berkualitas, atau hadirnya pemain-pemain berbakat. Semua itu harus ditopang oleh fondasi utama: integritas dan keadilan dalam setiap pertandingan.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menjadi pemenang, tetapi juga bagaimana kemenangan tersebut diraih dan apakah prosesnya berlangsung dalam kompetisi yang menjunjung tinggi nilai keadilan.
Jangan biarkan masa depan sepak bola Indonesia terhambat bukan karena kurangnya kualitas pemain, melainkan karena nilai keadilan dan sportivitas gagal dijaga di lapangan hijau.
