Jakarta, Jurnalbabel.com—Suara paling lantang terkadang lahir dari keheningan yang paling dalam. Kalimat inilah yang merangkum semangat The FCCI Film Festival 2026 di Malaysia, di mana dua karya film pendek karya mahasiswa FIKOM Universitas Mercu Buana (UMB)—DIKI dan RETAK DI ATAS MEJA—berhasil menembus panggung internasional.
Di bawah sorotan lampu TAR UMT Arena, karya yang tadinya lahir dari ruang-ruang kelas perkuliahan kini terbang jauh ke negeri jiran. Didampingi oleh dosen pembimbing Ridho Azlam Ambo Asse, M.I.Kom. dan Eka Perwitasari Fauzi, M.Ed., para mahasiswa tidak hanya duduk sebagai penonton. Mereka berdiri di hadapan audiens global, mempresentasikan ide, membedah proses produksi, dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan kreatif yang mereka ambil.
Lebih dari Sekadar Tugas Kuliah
Bagi Eka Perwitasari Fauzi, momen ini adalah titik balik penting dalam membangun mentalitas global para mahasiswanya. “Keikutsertaan dalam festival ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan hasil kerja keras mereka di panggung yang lebih global,” ungkap Eka.
Senada dengan hal tersebut, Ridho Azlam Ambo Asse, M.I.Kom. menambahkan bahwa pengalaman perdana tampil di luar negeri ini memperkaya cara pandang mahasiswa. Mereka belajar bahwa sebuah karya film tidak berhenti pada lembar penilaian nilai akhir semester. Lebih dari itu, film adalah alat komunikasi untuk menyampaikan gagasan lintas budaya.
Tak hanya film pendek, semarak keikutsertaan UMB semakin lengkap dengan dipamerkannya 15 karya fotografi terbaik dari kelas Fotografi, bersanding dengan karya-karya mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi internasional lainnya.
Ketika Kurikulum Bertemu Industri Kreatif
Pencapaian ini menjadi bukti nyata bagaimana pendekatan pembelajaran berbasis praktik di FIKOM UMB—yang menaungi konsentrasi Broadcasting, Marketing Communication, Digital Communication, dan Public Relations—mampu melampaui batas dinding kampus. Tugas akademik yang dirancang secara serius terbukti sanggup bertransformasi menjadi karya profesional yang siap diapresiasi di panggung dunia.
Kini, DIKI dan RETAK DI ATAS MEJA telah membuktikan: dengan kreativitas, ketekunan, dan ruang apresiasi yang tepat, karya mahasiswa Indonesia mampu berbicara banyak di kancah internasional. (sfn)
Reporter : Dudi Hartono
