JurnalBabel.com – Anggota Komisi XIII DPR, Pangeran Khairul Saleh, bekerja sama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila atau BPIP dan relawan Gerakan Kebajikan Pancasila mensosialisasikan Pancasila selama dua hari di Kalimantan Selatan, Sabtu (27/6/2026 dan Ahad (28/6/2026).
Dalam sambutannya, Pangeran Khairul Saleh menjelaskan Pancasila sebagai dasar negara berfungsi menanamkan nilai-nilai luhur agar menjadi pedoman hidup, menjaga NKRI dan membentuk karakter bangsa.
Selain itu, Pancasila berfungsi sebagai ideologi terbuka yang dinamis mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri bangsa.
“Pancasila sebagai dasar negara dan juga sebagai pondasi bangsa, jelas tidak bertentangan dengan Al Quran (agama),” kata Pangeran Khairul Saleh.
Dilihat dalam hubungan Pancasila sebagai dasar negara dan pondasi bangsa serta agama, lanjut Pangeran, maka Sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” menempatkan kepercayaan kepada Tuhan sebagai dasar pertama bernegara.
Artinya, tambah Pangeran, Indonesia mengakui keberadaan Tuhan dan menjamin kemerdekaan setiap penduduk memeluk agamanya masing-masing serta dijamin oleh UUD 1945 pasal 29.
“Indonesia bukan negara agama, juga bukan negara teokrasi yang dikuasai satu agama saja. Indonesia negara netral tapi berpihak pada nilai-nilai Ketuhanan,” jelasnya.
Tidak hanya itu, sambung Pangeran, Ketuhanan menjadi sumber moral seperti kejujuran, toleransi, kasih sayang, keadilan dan sumber etika dalam penyelenggaraan negara.
Menurutnya, Ketuhanan menguatkan 4 sila lainnya sebagai pondasi negara. Alhasil, semua agama yang diakui di NKRI mengajarkan nilai yang sama dengan 4 sila lainnya.
Lebih lanjut Pangeran menerangkan makna sila ke 2 Pancasila yang berbunyi “Kemanusian yang adil dan beradab”, dimana semua agama melarang kazaliman, membunuh tanpa alasan dan mengajarkan memuliakan manusia.
Selanjutnya sila ke 3 persatuan Indonesia, yang mana agama mengajarkan persaudaraan. Pangeran mengatakan, hal itu berhubungan dengan “Bhineka Tunggal Ika”.
Sila keempat kerakyatan. Menurut Pangeran, musyawarah ada dalam ajaran agama. Ia menyontohkan syuro dalam ajaran agama Islam atau rembuh dalam tradisi.
Sila kelima keadilan sosial. Pangeran menandaskan bahwa zakat, sedekah, cinta kasih sesama itu merupakan cerminan keadilan sosial.
“Kenapa dirumuskan begitu oleh pendiri bangsa? karena 87 persen penduduk Indonesia beragama. Kalau Pancasila anti agama, bangsa ini tidak akan bersatu di 1945,” kata politisi PAN ini.
“Soekarno menyebut Sila 1 sebagai ‘kaki yang berdiri di atas bumi Ketuhanan’. Tanpa itu, 4 sila lainnya akan rapuh,” pungkas legislator asal dapil Kalimantan Selatan ini.
Sumber: suarindonesia.com
