Bagi seorang profesor, pengabdian kepada bangsa tidak pernah berhenti di balik dinding kampus. Ilmu yang dimiliki bukan hanya untuk diajarkan, tetapi juga untuk diabdikan. Pengetahuan tidak cukup berhenti menjadi teori; ia harus menjelma menjadi karya, keteladanan, dan manfaat nyata bagi generasi penerus.
Prof. Dr. Suparji Achmad, S.H., M.H. menunjukkan bahwa bhakti kepada negeri dapat dilakukan melalui banyak jalan. Dari mimbar akademis, beliau mengajarkan hukum dan nilai-nilai kehidupan. Dari lapangan hijau, beliau menanamkan disiplin, sportivitas, keberanian, kerja keras, dan kecintaan kepada tanah air.
Sebagai Pembina Samba Persada Club, Prof. Suparji memilih untuk hadir di tengah anak-anak muda yang sedang mencari jalan untuk mengembangkan potensi mereka. Beliau tidak sekadar melihat mereka sebagai pemain sepak bola, tetapi sebagai generasi bangsa yang memiliki mimpi dan masa depan.
Di tangan pembinaan yang penuh ketulusan, lapangan hijau berubah menjadi ruang pendidikan. Setiap latihan menjadi proses menempa karakter. Setiap pertandingan menjadi pelajaran tentang keberanian dan tanggung jawab. Setiap kekalahan menjadi kesempatan untuk bangkit. Dan setiap kemenangan menjadi pengingat bahwa prestasi lahir dari kerja keras dan ketekunan.
Dari proses panjang itulah lahir para Srikandi Muda Samba Persada Women.
Mereka berlatih, berjuang, jatuh dan bangkit. Mereka belajar bahwa untuk mencapai prestasi tidak ada jalan pintas. Ada keringat yang harus ditumpahkan, ada disiplin yang harus dijaga, dan ada mimpi yang harus terus diperjuangkan.
Hingga akhirnya, pada 14 Agustus 2026, sebuah kebanggaan besar terukir.
Empat putri binaan Samba Persada dipercaya mengenakan seragam kebanggaan Merah Putih dan memperkuat Timnas Garuda Pertiwi dalam laga menghadapi Saudi Arabia: Putri Neza Larasati, Clarisya Putri Kurniawan, Shivana Rizka Nadhifa, dan Griselda Vivian Mariana.
Bagi Prof. Suparji dan keluarga besar Samba Persada, momen tersebut bukan sekadar pencapaian olahraga. Itu adalah buah dari sebuah proses pengabdian.
Ada kebahagiaan ketika melihat anak-anak yang dahulu ditempa di lapangan kini berdiri membawa nama Indonesia. Ada kebanggaan ketika mimpi yang pernah dirawat dengan kesabaran akhirnya menemukan panggungnya di bawah kibaran Merah Putih.
Di situlah makna bhakti sang profesor menemukan bentuknya.
Bahwa seorang akademisi tidak harus selalu berada di ruang kuliah untuk mengabdi. Ia dapat hadir di tengah masyarakat, menyentuh kehidupan generasi muda, membuka kesempatan, dan membantu mereka menemukan jalan menuju masa depan.
Sebab pendidikan sejatinya bukan hanya tentang memindahkan ilmu dari kepala seorang guru ke kepala seorang murid. Pendidikan adalah menyalakan harapan, membangun karakter, dan membuat seorang anak berani percaya bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu yang besar.
Dari Samba Persada menuju Garuda Pertiwi, perjalanan para Srikandi ini menjadi pesan bahwa sebuah prestasi besar sering kali bermula dari pengabdian yang sederhana, dilakukan dengan ketulusan dan konsistensi.
Hari ini mereka bermain membawa nama Indonesia.
Namun di balik jersey Merah Putih itu ada perjalanan panjang, ada doa, ada kerja keras, ada pembinaan, dan ada tangan-tangan yang dengan sabar menempa mereka.
Itulah hakikat bhakti.
Tidak selalu tentang seberapa besar sesuatu yang kita berikan kepada negeri, tetapi tentang seberapa tulus kita menyiapkan generasi yang kelak akan membawa negeri ini lebih tinggi.
Selamat berjuang, para Srikandi Garuda Pertiwi.
Bermainlah dengan hati.
Berjuanglah dengan kehormatan.
Junjung tinggi sportivitas.
Dan kibarkan Merah Putih setinggi-tingginya.
Karena dari lapangan hijau, sebuah mimpi sedang terbang menuju masa depan.
Dari ilmu menjadi pengabdian.
Dari pengabdian menjadi prestasi.
Dari Samba Persada menuju Garuda Pertiwi.
Inilah Bhakti Sang Profesor untuk negeri.
