JurnalBabel.com – Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama mitra kerja Badan Gizi Nasional (BGN) kembali digelar di Cafe Vaan In Sky, Makassar, Sulawesi Selatan.
Anggota Komisi IX DPR, Ashabul Kahfi, menjadi pembicara utama dalam kegiatan sosialisasi yang dihadiri oleh ratusan peserta yang sudah antusias menantikan program MBG.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pemahaman masyarakat mengenai urgensi pemenuhan gizi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
Dalam pemaparannya, Ashabul Kahfi menjelaskan berbagai negara telah lebih dahulu menerapkan program makan bergizi bagi siswa sebagai bagian dari kebijakan strategis nasional.
Ia mencontohkan keberhasilan program di India, Jepang, Amerika Serikat, dan Brasil yang telah berjalan selama bertahun-tahun dan terbukti memberikan dampak positif terhadap kualitas pendidikan serta kesehatan anak.
“Banyak negara sudah lebih dulu menerapkan sistem Makan Bergizi Gratis atau program makan gratis untuk siswa, bahkan ada yang telah berjalan lebih dari satu dekade. Kita bisa melihat bahwa pengembangan sumber daya manusia sangat berbanding lurus dengan pemenuhan asupan gizi yang seimbang,” ujar Ashabul Kahfi dilansir, Selasa (24/2/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan program MBG tidak hanya berbicara soal pemberian makanan, tetapi juga merupakan bagian dari strategi besar dalam memperkuat ketahanan pangan nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha desa.
Menurutnya, kolaborasi antara Koperasi Desa (Kopdes) dengan program MBG menjadi langkah strategis dan konkret.
“Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani serta pelaku usaha desa, kolaborasi antara Koperasi Desa dan program MBG menjadi langkah strategis yang konkret dan berkelanjutan,” tegasnya
Ia menjelaskan, melalui skema pembelian langsung oleh Kopdes, hasil pertanian, peternakan, dan perikanan desa dapat terserap optimal tanpa melalui rantai distribusi panjang yang kerap merugikan produsen.
Dengan mekanisme tersebut, petani memperoleh harga yang lebih adil dan stabil, distribusi pangan menjadi lebih efisien dan transparan, serta perputaran ekonomi desa semakin kuat karena nilai tambah dinikmati masyarakat lokal.
“Sinergi Kopdes dan MBG bukan hanya program distribusi pangan, tetapi transformasi sistem ekonomi desa. Dengan memperpendek jalur distribusi, nilai tambah kembali ke petani dan masyarakat desa, bukan terpusat pada perantara,” katanya.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa Program MBG merupakan investasi jangka panjang bagi generasi bangsa sekaligus instrumen penguatan ekonomi kerakyatan.
Kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, legislatif, hingga masyarakat desa, menjadi kunci keberhasilan implementasi program secara berkelanjutan.
