Jakarta, JurnalBabel.com – United State Biolitic Survei menyebut per 2025 total cadangan nikel Indonesia mencapai 55 juta ton yang diperkirakan dapat memenuhi 70 persen kebutuhan baterai E-V di dunia.
Untuk itu, Komisi XII DPR mendorong potensi dioptimalkan semaksimal mungkin melalui hilirisasi dan pengembangan industri baterai E-V.
Anggota Komisi XII DPR Fraksi PKB, Dipo Nusantara Pua Upa, menyayangkan jika Indonesia hanya jadi eksportir nikel sebagai bahan mentah. Mengingat, potensi tersebut bisa menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pemasok produksi baterai E-V di dunia.
“Jangan cuma nikel saja yang di ekspor, harus ada yang sampai jadi barang-barang yang sangat berharga. Contoh seperti baterai, stainless steel juga diharapkan. Alam kita juga tidak rusak dan ada yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” kata Dipo Nusantara dikutip dari video di akun youtube tvr parlemen, Selasa (21/4/2026).
Politisi PKB ini menekankan, optimalisasi nikel tidak boleh hanya berhenti pada ekspor bahan mentah. Penguatan hilirisasi perlu dilakukan bekerja sama dengan Kementerian ESDM untuk mengolah nikel menjadi barang bernilai tinggi.
“Tadi kita di sini juga sudah ngobrol langsung ke Pak Cecep Dirjen Minerba dari ESDM. Saya tanyakan juga apakah hanya nikel saja yang diekspor, apakah kita ada rencana ke depan untuk menjadikan baterai sehingga alam kita gak rusak, alam kita lebih bermanfaat untuk masyarakat,” tegasnya.
