Jakarta, JurnalBabel.com – Analis komunikasi politik, Hendri Satrio (Hensa), mengritisi wacana Badan Gizi Nasional (BGN) yang menyebut murid dari keluarga kaya dan sangat kaya tidak akan menerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Ada wacana dari BGN, murid kaya dan kaya sekali dalam sekolah yang sama tidak akan dapat MBG. Salah ini menurut saya,” kata Hensa lewat medsosnya, Jumat (24/7/2026).
Menurut Hensa, apabila BGN menerapkan kebijatan tersebut maka berpotensi menimbulkan pengelompokan berdasarkan status ekonomi di lingkungan sekolah. Apabila kebijakan itu diterapkan maka negara justru menciptakan perbedaan kelas di antara peserta didik yang selama ini dihindari dalam sistem pendidikan.
“Kalau ini diberlakukan, negara sudah membedakan ‘kelas’ warganya. Bisa terjadi gesekan antarkelas yang runcing,” ujarnya.
Menurut Hensa, anak sekolah sejak jenjang SD hingga SMA, penggunaan seragam sekolah dan sepatu hitam diterapkan untuk menghilangkan perbedaan antara anak dari keluarga mampu maupun kurang mampu.
“Kenapa kita SD, SMP, SMA dikasih seragam, harus sepatu hitam? Agar tidak ada pembeda antara anak kaya dan anak miskin,” ungkapnya.
Atas dasar hal itu, Hensa menyarankan pemerintah mengevaluasi skema pelaksanaan MBG yang membedakan anak kaya dan miskin.
Hensa justru menyarankan agar Program MBG sebaiknya difokuskan kepada daerah-daerah yang benar-benar membutuhkan atau dilakukan perubahan mekanisme penyalurannya.
“Semestinya MBG konsentrasi ke daerah miskin yang memerlukan atau melakukan perubahan skema pemberian MBG,” pungkas Hensa.
