Jakarta, JurnalBabel.com – Usia Blok Rokan di Riau yang sudah puluhan tahun menjadi tantangan untuk mempertahankan produksi Migas dengan total 80 area penambangan aktif dan sekitar 11.300 sumur yang sebagian besar telah berumur tua.
Komisi XII DPR menilai perlunya revitalisasi blok Rokan untuk mengoptimalkan potensi sumur dan menjaga lifting Migas nasional.
Anggota Komisi XII DPR, Sartono Hutomo, menilai revitalisasi Blok Rokan tidak bisa dilakukan pada sumurnya saja, peralatan dan fasilitas produksi yang sudah tua juga harus diperbarui agar potensi cadangan yang masih tersisa tidak terbuang dan lifting Migas nasional dapat kembali ditingkatkan.
Pertamina Hulu Rokan kini menggunakan teknologi chemical oil recovery atau CEOR. Teknologi ini ditargetkan meningkatkan perolehan Migas hingga 12-16 persen dari original oil inplace.
“Tentu ini juga perlu proses yang tidak sederhana untuk bagaimana sumur-sumur ini bisa meningkat lagi dari pada lifting yang dieksplorasi ini,” kata Sartono dikutip, Selasa (25/8/2026).
Diketahui total produksi Migas Blok Rokan terus menunjukan tren penurunan dari rata-rata 161 ribu barel per hari pada 2023 turun menjadi 158 ribu barel per hari pada 2024. Kembali turun menjadi 151 ribu barel per hari pada 2025.
Artinya dalam 2 tahun produksi Blok Rokan turun 10 ribu barel per hari atau sekitar 6,3 persen, sehingga revitalisasi menjadi hal yang mendesak ditengah krisis energi yang terjadi hingga kini.
