Luka ini bukan gegap gempita kepada dunia, karena tim favoritnya kalah, tetapi suatu tragedi dalam liga sepak bola putri. Bagi Prof. Dr. Suparji Ahmad, S.H., M.H., sepak bola putri bukan tentang gegap gempita Piala Dunia di layar kaca.
Sebagai Pembina Samba Persada Women sekaligus Guru Besar Ilmu Hukum, beliau melihat turnamen HYDROPLUS Soccer League All-Stars 2025/2026 sebagai secercah harapan.
Di bawah naungan Bakti Olahraga Djarum Foundation, sebuah ekosistem baru bagi anak-anak bangsa sedang mekar dan bergairah. Namun sayang, ketulusan itu harus dinodai oleh luka mendalam pada laga Fase Grup U-18, 6 Juli 2026 kemarin.
Di atas rumput Super Soccer Arena Kudus, keadilan seolah runtuh dalam hitungan menit. Pada menit ke-60, sebuah tendangan keras pemain Samba Persada membentur tangan pemain Putri Tangsel City di dalam kotak penalti.
Kasat mata, benderang, namun wasit memilih menutup mata. Tragisnya, cerita berbalik di menit ke-68. Tanpa ada pelanggaran berat yang berarti di kotak terlarang Samba Persada, sang pengadil justru dengan ringan tangan merogoh kartu kuning dan menunjuk titik putih untuk kemenangan lawan.
Sebagai pendidik, Prof. Suparji terpukul.
”Saya selalu mengajarkan anak-anak didik saya untuk berani mengakui kesalahan,” ungkapnya getir. “Tapi, jangan pernah menjatuhkan hukuman tanpa dasar, dan jangan pernah membebaskan sebuah kesalahan yang nyata.”
Hukum dan sepak bola punya satu napas yang sama: kejujuran yang adil tanpa tebang pilih (equality before the law). Ketika peluit ditiup berdasarkan standar ganda, esensi olahraga itu sendiri telah mati. Penegak aturan di lapangan hijau memikul amanah besar untuk bertindak netral, independen, profesional, serta bekerja dengan cerdas dan ikhlas demi masa depan tunas muda.
Jangan kecewakan penyelenggara yang telah berinvestasi besar. Jangan khianati keringat anak-anak muda U-18 yang berlatih tanpa lelah, dan jangan matikan gairah para penikmat bola. Industri sepak bola kita tidak akan pernah melangkah jauh jika pengadil lapangan justru menjadi perusak ekosistemnya sendiri.
Melalui momentum 6 Juli ini, duka Samba Persada Women adalah kritik terbuka agar integritas wasit segera dibenahi. Jangan biarkan keputusan yang rapuh membunuh mimpi besar anak bangsa.
Kami butuh keadilan bukan sekedar kemenangan.
