Jakarta, JurnalBabel.com – Pakar komunikasi politik, Hendri Satrio (Hensa), mempertanyakan klaim Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita soal industri tanah air.
Agus pada Rabu (15/4/2026) menegaskan industri nasional tetap memiliki daya tahan kuat, meski menghadapi gangguan pasokan dari sisi bahan baku akibat ketidakpastian geopolitik global.
Hensa mempertanyakan dasar klaim tersebut dengan merujuk pada kondisi riil di lapangan.
“Kalau industri kita kuat, yang paling gampang indikasinya itu lapangan pekerjaan tersedia banyak dan PHK enggak ada. Kemudian juga produk-produk kita bersaing minimal di ASEAN. Jadi apanya yang kuat? Orang PHK jalan terus, lapangan pekerjaan susah,” kata Hensa kepada wartawan, Kamis (16/4/2026).
Ia menilai kondisi saat ini justru mencerminkan industri yang stagnan dan tidak mengalami kemajuan.
Gelombang PHK yang terus terjadi di berbagai sektor menjadi bukti nyata bahwa klaim ketahanan industri tidak sejalan dengan realita yang dirasakan para pekerja dan pelaku usaha.
“Pada kenyataannya, industri kita mandek dan jalan di tempat. Tidak ada tanda-tanda pertumbuhan yang benar-benar dirasakan masyarakat menengah ke bawah,” ujarnya.
Lebih jauh Hensa menegaskan Menteri Perindustrian perlu mempertanggungjawabkan pernyataannya secara publik.
Menurutnya, klaim optimisme tanpa data yang mencerminkan kondisi saat ini dinilai hanya akan menjauhkan pemerintah dari kepercayaan publik.
“Menteri Perindustrian harus bertanggung jawab dengan statement-nya, karena faktanya kondisi yang ia klaim itu tidak tergambarkan sekarang, dan berpotensi menjauhkan kepercayaan publik terhadap pemerintah” pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan industri nasional tetap memiliki daya tahan kuat, meski menghadapi gangguan pasokan dari sisi bahan baku akibat ketidakpastian geopolitik global.
Menurutnya, di Jakarta, Rabu, persoalan bahan baku saat ini menjadi isu utama seluruh sektor industri, termasuk tekstil dan produk tekstil (TPT), yang tak hanya terjadi di Indonesia.
Namun, ia memastikan kondisi tersebut masih dapat dihadapi dengan optimisme.
“Bahan baku pasti menjadi isu yang terkhusus dan terpenting dari ketidakpastian geopolitik yang kita hadapi,” ujar Menperin.
Lebih lanjut, dirinya meyakini bahwa ketidakpastian geopolitik dunia akan segera berakhir, serta menekankan bahwa industri domestik memiliki daya tahan yang kuat terhadap tekanan dari dinamika global.
“Tapi saya yakin, kita harus optimis bahwa ketidakpastian geopolitik ini sudah cukup lama, tapi akan selesai dalam waktu yang dekat,” katanya.
Menperin mencontohkan pengalaman Indonesia saat menghadapi pandemi COVID-19, yang pada saat itu industri nasional dinilai mampu menunjukkan resiliensi tinggi dan bangkit lebih cepat dibandingkan banyak negara lain.
“Ketika kita menghadapi COVID misalnya, dimana jelas sekali resiliensi, survival dari industri kita luar biasa tinggi, sehingga begitu kalau boleh disebut krisis itu berlalu, maka industri kita itu menjadi industri yang lebih cepat tumbuh kembali dibandingkan dengan negara-negara lain,” tuturnya.
Ia menekankan tantangan pasokan dan pasar bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga menjadi fenomena global. Dengan demikian, daya tahan industri nasional dinilai tetap kompetitif dalam menghadapi tekanan tersebut.
“Sekali lagi yang menghadapi permasalahan supply, market, itu bukan hanya di Indonesia,” kata Agus.
