JurnalBabel.com – Anggota Komisi X DPR Dapil Banten, Adde Rosi Khoerunnisa memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan tradisi Seba Baduy yang digelar di Pendopo Bupati Kabupaten Lebak.
Ia menilai, tradisi ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan simbol kuat hubungan antara masyarakat adat dan pemerintah.
Menurut Adde Rosi, Seba Baduy mengandung nilai-nilai luhur yang perlu dijaga dan diwariskan. Tradisi ini menjadi wujud nyata rasa syukur masyarakat Baduy atas hasil bumi, sekaligus bentuk penghormatan kepada pemerintah sebagai pemangku kebijakan.
“Ini bukan sekadar seremoni. Ada filosofi mendalam tentang kesederhanaan, kejujuran, serta keseimbangan hidup dengan alam yang harus kita jaga bersama,” ujar Adde Rosi dikutip dari akun Instagram pribadinya, Sabtu (25/4/2026).
Filosofis Seba Baduy
Tradisi Seba Baduy merupakan salah satu warisan budaya masyarakat adat Baduy di Kabupaten Lebak yang telah berlangsung turun-temurun. Dalam prosesi ini, masyarakat Baduy berjalan kaki membawa hasil bumi sebagai simbol pengabdian dan rasa syukur.
Adde Rosi menegaskan nilai utama dari tradisi ini adalah harmoni antara manusia, alam, dan pemerintah. Ia menyebut, di tengah modernisasi yang cepat, nilai-nilai seperti ini justru semakin penting untuk dijaga.
“Dari Baduy, kita belajar bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan alam. Justru keseimbangan itulah yang menjadi kunci keberlanjutan,” tegasnya.
Tantangan Pelestarian di Tengah Modernisasi
Di balik kekayaan nilai budaya tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang mulai muncul. Berdasarkan pengamatan di lapangan, tekanan modernisasi dan perubahan gaya hidup perlahan mulai memengaruhi keberlangsungan tradisi masyarakat adat.
Beberapa persoalan yang mencuat antara lain:
- Minimnya regenerasi generasi muda dalam menjaga tradisi
- Tekanan pembangunan yang berpotensi mengganggu kawasan adat
- Kurangnya edukasi publik terhadap makna Seba Baduy
Adde Rosi menilai, tanpa langkah konkret dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, tradisi ini berisiko mengalami degradasi makna.
“Pelestarian budaya tidak cukup dengan seremoni tahunan. Harus ada kebijakan nyata, perlindungan wilayah adat, dan edukasi berkelanjutan,” tegasnya.
Peran Strategis dalam Pelestarian Budaya
Sebagai wakil rakyat dari Banten, Adde Rosi menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya lokal. Ia juga aktif mengangkat isu kearifan lokal dalam berbagai forum nasional.
Ia menilai, budaya seperti Seba Baduy memiliki potensi besar, tidak hanya sebagai identitas daerah, tetapi juga sebagai kekuatan diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
“Budaya kita adalah kekuatan. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi kebanggaan sekaligus daya tarik dunia,” ujarnya.
Ajakan Kolaborasi
Adde Rosi juga mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, hingga generasi muda, untuk bersama-sama menjaga warisan budaya ini.
Politisi Partai Golkar ini menekankan pelestarian budaya tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Mari kita jadikan Seba Baduy sebagai pengingat bahwa identitas bangsa ada pada budaya. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?” pungkasnya.
Tradisi Seba Baduy bukan hanya milik masyarakat Baduy, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya nasional. Peran tokoh seperti Adde Rosi menjadi penting dalam memastikan bahwa nilai-nilai luhur ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah arus zaman.
Dengan komitmen yang kuat dan dukungan semua pihak, Seba Baduy diharapkan tetap menjadi simbol harmoni, kesederhanaan, dan kearifan lokal yang menginspirasi generasi masa depan.
