Jakarta, JurnalBabel.com – Komisi IX DPR menyoroti terjadinya penurunan cakupan imunisasi anak sekolah sebesar 8,7 persen pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2024.
Anggota Komisi IX DPR, Ashabul Kahfi, mengatakan cakupan imunisasi anak sekolah tahun 2025 mencapai 82,5 persen. Sementara tahun 2024 mencapai 91,2 persen atau terjadi penurunan 8,7 persen pada 2025.
“Pertanyaan saya, BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) dilakukan di sekolah, jadi untuk menjangkau sasaran sangat mudah. Kenapa terjadi penurunan signifikan menurut saya?,” kata Ashabul Kahfi dalam rapat kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Kesehatan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Ashabul bisa memaklumi terjadinya penurunan seandainya sasaran cakupan imunisasi atau program BIAS ini di daerah terpencil.
“Ini kan di sekolah yang sangat mudah dijangkau tetapi menurun. Dari 2024 menjadi 2025 menurun targetnya 8,7 persen,” ujarnya.
Selain itu, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga mempertanyakan penyebab wilayah Jawa Timur atau Jatim masuk 10 besar cakupun target imunisasi yang cukup rendah. Padahal Jatim masuk kota besar di Indonesia dan terletak di Pulau Jawa.
“Beda halnya di Papua, NTT sana tetapi ini Jatim. Sementara dibandingkan dengan program stunting, Jatim ini mengalami penurunan yang cukup signifikan tetapi imunisasinya rendah sekali. Tolong dijelaskan. Apakah karena jarang dilaksanakan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat)?,” katanya.
Selain itu, Ashabul Kahfi menyoroti meningkatnya perhatian terhadap kasus rabies. Ia meminta penjelasan apakah penyebaran rabies lebih banyak disebabkan oleh anjing liar atau juga berpotensi berasal dari anjing peliharaan, mengingat budaya memelihara anjing kini semakin banyak dijumpai di berbagai daerah.
Melalui pengawasan yang konstruktif, Fraksi PAN DPR RI terus mendorong evaluasi dan penguatan program kesehatan agar perlindungan masyarakat dapat berjalan secara optimal.
