Jakarta, JurnalBabel.com – Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, mengingatkan masyarakat untuk tidak terburu-buru memahami sebuah peristiwa hanya dari potongan video atau clipper yang beredar di media sosial.
Pria yang akrab disapa Hensa ini mengatakan, perkembangan teknologi komunikasi membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi. Namun, kemudahan tersebut juga perlu dibarengi kehati-hatian karena informasi yang diterima belum tentu menggambarkan keseluruhan cerita.
“Di era teknologi komunikasi saat ini, di era media sosial, di era homeless media, memang harus berhati-hati dalam mencerna sebuah cerita. Cerita harus dilihat secara utuh dan jelas,” kata Hensa dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026).
Ia mengatakan, masyarakat saat ini kerap menemukan suatu peristiwa melalui video-video pendek. Persoalannya, potongan tersebut tidak selalu menyertakan konteks secara keseluruhan.
“Terkadang cerita yang kita dapat hanya setengah-setengah karena hanya melihat clipper-clipper yang dibuat untuk menarik perhatian,” ujarnya.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu menilai fenomena tersebut tidak lepas dari perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi konten di media sosial.
Menurut dia, cerita atau komunikasi dengan durasi panjang cenderung lebih jarang ditampilkan karena dianggap dapat membuat pengguna media sosial bosan hingga menghabiskan lebih banyak kuota internet. Akibatnya, pembuat konten lebih memilih membuat potongan-potongan video singkat yang dinilai lebih mudah mendapatkan perhatian.
“Jadi biasanya cerita komunikasi yang panjang itu jarang sekali ditampilkan karena ditakutkan akan membuat bosan, kemudian makan kuota, dan lain-lain. Sehingga orang lebih tertarik, lebih suka untuk melaksanakan atau membuat clipper-clipper yang tujuannya untuk menarik perhatian, menambah follower, masuk FYP,” jelasnya.
Namun, menurut Hensa, ada hal penting yang berpotensi hilang ketika sebuah peristiwa hanya disajikan dalam bentuk potongan-potongan singkat tersebut.
“Tapi yang dilupakan adalah keseluruhan konten dari cerita itu,” katanya.
Hensa mengatakan, kondisi semacam itu dapat membuat masyarakat mendapatkan cerita setengah-setengah dan akhirnya memahami sebuah kejadian secara berbeda apabila tidak mencari konteks lengkapnya.
Salah satu contoh terbaru, menurut dia, dapat dilihat dari ramainya video Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat peresmian LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai.
Dalam potongan video yang beredar, Teddy terlihat meminta sejumlah pihak, termasuk jajaran direksi dan pejabat terkait, untuk berpindah tempat. Cara Teddy memberikan arahan tersebut kemudian menjadi perhatian sebagian masyarakat.
“Nah, salah satu yang terbaru contohnya adalah cerita Seskab Teddy yang ramai diperbincangkan saat peresmian LRT Kelapa Gading-Manggarai. Ia ramai disebut meminta Direktur LRT pindah tempat, namun caranya mungkin tidak enak bagi sebagian masyarakat jika dilihat videonya,” ujar Hensa.
Namun, Hensa mengatakan terdapat cerita lain yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.
Menurut penjelasan yang disampaikan Seskab Teddy, pengaturan posisi di dalam gerbong dilakukan untuk memberikan ruang agar para penyandang disabilitas dapat berada lebih dekat dengan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Dengan demikian, para penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dan berdialog dengan Presiden serta Gubernur Jakarta.
“Nah, kan ternyata cerita sesungguhnya ada di balik itu, bahwa ada keinginan dari aparat atau pemerintah untuk mendekatkan saudara-saudara kita penyandang disabilitas ke Presiden Prabowo dan Gubernur Pramono Anung supaya para saudara kita yang menyandang disabilitas ini bisa berkomunikasi, berdialog dengan Presiden dan Gubernur,” kata Hensa.
Menurut dia, konteks tersebut tidak terlihat apabila masyarakat hanya menyaksikan potongan video yang lebih dahulu beredar.
“Tapi clipper yang beredar di masyarakat justru yang terlihat hanya bagaimana Seskab Teddy meminta para direksi LRT, Dirjen Kereta Api dan lainnya untuk pindah gerbong tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya,” ujarnya.
Hensa menegaskan fenomena semacam itu tidak hanya terjadi dalam kasus Teddy. Menurut dia, berbagai peristiwa lain juga dapat dipahami secara tidak lengkap apabila masyarakat hanya mengandalkan potongan video.
“Hal ini juga sering terjadi di beberapa case clipper-clipper tidak lengkap yang ada di masyarakat,” kata dia.
Karena itu, Hensa mengajak masyarakat membiasakan diri mencari dan menyaksikan informasi secara lengkap sebelum menarik kesimpulan terhadap sebuah peristiwa.
“Maka mari kita biasakan mendengarkan, melihat, menyaksikan cerita lengkap dibandingkan hanya melihat clipper-clipper saja,” pungkasnya.
