Jakarta, JurnalBabel.com – Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi resmi menjadi kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) setelah memamerkan Kartu Tanda Anggota (KTA) saat menghadiri Rakorda PSI Bandung, Jawa Barat, Sabtu (26/9/2026).
Analis komunikasi politik, Hendri Satrio alias Hensa, mengungkap beberapa faktor mengapa Jokowi baru mengumumkan bergabung sebagai kader PSI saat ini.
Pertama, Jokowi merasa terisolasi karena sudah tidak memiliki partai dan tidak diajak untuk membahas maupun menentukan besaran ambang batas parlemen dalam RUU Pemilu yang sedang dibahas di DPR bersama pemerintah.
Alhasil, lanjut Hensa, Jokowi ingin PSI dilihat sebagai kekuatan baru yang tidak bisa dianggap remeh.
“Dia umumkan sebagai anggota PSI karena sebetulnya dia ingin umumkan sebetulnya bahwa ini ada loh kekuatan baru di Indonesia yang namanya PSI dan saya ada disitu dan tolong jangan diremehkan kekuatan ini. Ini bisa jadi kekuatan besar dan baru,” kata Hensa dalam akun youtube pribadinya, Selasa (29/9/2026).
Kedua, Jokowi merasa diserang atau terserang dengan dua isu, yakni ijazahnya sendiri dan ijazah anaknya yang juga Wapres Gibran Rakabuming Raka.
“Mungkin dia bertanya-tanya sebagai orang yang mengorbitkan Prabowo Subianto dan menjamin Prabowo menang (Pilpres 2024) dengan tanda anaknya itu, kok bergulir kasus ini. Kok tidak ditahan, kok dobel attack, ke saya juga ke anak saya juga,” ungkapnya.
Ketiga, ingin berhadapan dengan Prabowo. Sebab, Jokowi mengumumkan sebagai kader PSI di Bandung, Jawa Barat, yang merupakan kandang Prabowo. Pada Pilpres 2014 dan 2019, suara Jokowi selalu kalah dengan Prabowo di Jawa Barat.
“Dengan gunakan ikat Sunda sebenarnya dia ingin kasih tahu juga yang gue serang atau saya tidak sedang berhadap-hadapan dengan Megawati, tapi saya sedang berhadapan dengan Prabowo. Kalau dia mau berhadapan dengan PDIP atau Megawati, dia umumkan di Jawa Tengah,” pungkasnya.
