Jakarta, JurnalBabel.com – Anggota Komisi IX DPR, Ashabul Kahfi, menyatakan Indonesia harus bersiap menghadapi masyarakat menua, bukan hanya menikmati bonus demografi.
Berdasarkan data Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), penduduk lansia usia 60 tahun ke atas pada 2025 sudah mencapai 11,97% dari total penduduk. Lalu penduduk usia 65 tahun ke atas diproyeksikan sekitar 9,62% pada 2030 dan meningkat menjadi 12,78% pada 2040.
Menurut Ashabul, berdasarkan data tersebut Indonesia sebenarnya sudah memasuki fase masyarakat menua dan pada periode 2030–2040 dapat disebut sebagai fase ketika peningkatan jumlah lansia akan terasa jauh lebih kuat.
“Jangan sampai kita terlalu sibuk merayakan bonus demografi, lalu terlambat ketika penduduk mulai menua,” kata Ashabul Kahfi dalam rapat kerja Komisi IX DPR dengan Mendukbangga, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Lebih lanjut Ashabul mengatakan, secara nasional sekitar 69 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan juga sudah mendekati dua anak.
Ia menilai hal tersebut disebut bonus demografi yang menggembirakan, dimana penduduk usia kerja jumlahnya jauh lebih besar dibanding kelompok yang menjadi tanggungan. Namun, Ashabul berpendapat orang berusia 20 tahun tidak otomatis menjadi bonus hanya karena masuk kelompok usia produktif. Pasalnya, apabila mereka menganggur, tidak terampil dan sulit mendapat pekerjaan, ia belum menjadi bonus ekonomi.
“Penduduk usia produktif memang masih dominan, tetapi jumlah lansia terus meningkat. Artinya, Kemendukbangga perlu bergerak dari sekadar membaca struktur umur menuju kebijakan konkret: pelayanan lansia, perawatan jangka panjang, dan pemberdayaan ekonomi lansia,” ujarnya.
Selain itu, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyoroti terlalu banyaknya program keluarga yang dibuat oleh Kemendukbangga tetapi sulit diukur hasilnya. Seperti program Bina Keluarga Balita, TAMASYA, Gerakan Ayah Teladan Indonesia, Kampung KB, Rumah DataKu, dan Akademi Keluarga Indonesia.
Ashabul menilai program-program tersebut arahnya baik, tetapi masyarakat tidak terlalu membutuhkan banyak singkatan. Yang mereka butuhkan adalah hasil seperti hubungan keluarga membaik, pengasuhan anak lebih aman, remaja lebih terlindungi, dan lansia lebih berdaya.
“Jadi, ukuran keberhasilan harus beralih dari banyaknya kegiatan ke dampak nyata pada kualitas keluarga,” kata legislator asal dapil Sulawesi Selatan ini.
