Jakarta, JurnalBabel.com – Anggota Komisi IV DPR Fraksi Partai Demokrat, Bambang Purwanto, mengatakan pihaknya telah mengingatkan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) untuk memetakan kondisi lapangan untuk menghadapi dan mencegah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, sesuai hasil rapat kerja Komisi IV DPR pada 30 Juni 2026.
Ada tiga rekomendasi kepada Kemenhut pada rapat tersebut. Yakni memetakan lahan gambut; bekerjasama dengan Pemda, TNI/Polri melakukan patroli serta melengkapi dan meremajakan peralatan Manggala Agni yang dinilainya sudah usang.
Namun Bambang Purwanto mengatakan hal tersebut belum dilakukan oleh Kemenhut. Sebab itu, Bambang menilai Kemenhut tidak serius hadapi Karhutla.
“Saya menilai Kehutanan memang menganggap enteng sepertinya, karena beberapa saat lalu juga sudah saya sampaikan juga kondisi El Nino ini yang puncaknya Oktober, yang saya khawatirkan terjadi seperti 97-98. Dan ini sudah terlihat bahwa pertengahan Juli kemarin sudah tidak ada hujan hingga saat ini. Dan ini sudah parah dilapangan,” kata Bambang Purwanto dalam rapat kerja Komisi IV DPR dengan Menteri Kehutanan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, seharusnya Kemenhut meremajakan peralatan Manggala Agni yang rata-rata sudah usang.
“Ini mobil tangkinya saja yang kecil. Kemudian pompa airnya yang kecil-kecil dan itu sudah usang semua dan ini membahayakan petugas Manggala Agni ketika terjun ke lapangan,” ujarnya.
Bambang berpandangan, tidak mungkim hutan dengan sendirinya terbakar tanpa campur tangan manusia. Sebab itu, tegasnya, pihaknya sudah sampaikan Kemenhut bekerjasama dengan TNI/Polri untuk lakukan patroli Karhutla.
“Nah ini nampaknya juga tidak ada gerakan patroli di lapangan,” ungkap legislator asal dapil Kalimantan Tengah atau Kalteng ini.
Bambang menyebut di kondisi Karhutla di Kalteng sudah semakin parah. Namun ada keuntungan sedikit bahwa gambut belum kering total tetapi dengan musik kemarau yang terus berjalan, ia memprediksi pada Oktober mendatang akan kering.
“Memang strategi pemadaman ketika sudah dilakukan pemadaman tidak tuntas, ditinggal. Ini sangat berbahaya, sehingga ketika kena angin akan berhembus kembali dan membesar,” tegasnya.
Selain peralatan, tambah Bambang, logistik harus juga disuplai seperti mobil tangki mensuplai air. Kemudian makan, minum petugas harus disiapkan diantar ke lapangan. Jangan sampai petugas ketika istirahat pulang istirahat makan menjadi malas kembali karena jaraknya yang cukup jauh.
Bambang juga mengingatkan ketika membeli peralatan mobil tangki air agar panjang selang air ditambah karena jarak pinggir jalan sampai lokasi Karhutla cukup jauh.
Bambang pun berharap penambahan anggaran pemda untuk Karhutla karena pemda kewalahan untuk menggerakan pasukan karena kekurangan anggaran.
“Kalau boleh komando ini diambilalih oleh Kehutanan dan diberikan dukungan logistik yang memadai,” pungkasnya.
